Rabu, 28 Maret 2012

Catatan (menjelang) Ahir Tahun 2011

Belum tuntas kasus kerusuhan dan pembantaian di Papua, muncul lagi kasus serupa di Mesuji Lampung dan sekitarnya. Pun belum tuntas, kini media disibukkan dengan kasus yang lagi-lagi serupa dengan deretan kasus-kasus diatas, kerusuhan dan pembantaian di Bima NTB. Dan tidak menutup kemungkinan masih banyak kasus serupa dibelahan bumi Indonesia yang tidak terliput oleh media, mungkin terlalu banyaknya atau bahkan sengaja disembunyikan oleh oknum tertentu. Parahnya (dan mudah-mudahan kali ini salah) adalah serangkaian deretan kasus yang saling terkait motifnya (sumber : dari beberapa media). Seribu satu alasan yang mungkin dibenarkan dan mungkin pula disalahkan.

Belum lagi kasus pidana korupsi yang tertumpuk bertindihan tanpa ada penyelesaian akar masalahnya, satu kasus belum selesai, mengantri kasus-kasus yang berdesakan “ingin segera” diliput media. Sebagai contoh, kasus Century, kasus Gayus Tambunan, kasus Nazarudin dan masih banyak lagi. Seperti halnya diatas, belum terselesaikan, muncul dan muncul lagi kasus-kasus baru yang serupa.

Kasus lain seperti kemelut olah raga, kisruh reshuffle kabinet pemerintah, dan lain-lain. Dengan kemampuan media yang lihai mencium dan menangkap serangkaian kasus (tanpa di sortir dan disensor) bermanuver dari satu kasus ke kasus yang lain disuguhkan dimuka publik dengan atau tanpa intrik, sangat vulgar, luar biasa.

Yang ingin saya sampaikan disini adalah bukan menyoal kasus kerusuhan kekerasan pembantaian atau sederet kasus tindak pidana korupsi yang tak kunjung reda, biarlah itu semua difahami dan tentunya diselesaikan oleh pihak yang seharusnya bertanggung jawab. Tetapi jauh dari itu adalah peranan media yang beraksi liar luar biasa. Disaat bangsa ini baru belajar berdiri, dijejali dengan konsumsi virus menyebar, tayangan dan tontonan yang (kita semua sama-sama setuju) secara langsung atau tidak langsung berdampak ciutnya mental rakyat bangsa ini. Menabur pesimistis disegala penjuru, menumbuhkan mental-mental negatif. Maka tidak heran jika suatu saat kasus yang terurai diatas akan terulang dimasa mendatang, mungkin dengan modus, motif dan intrik yang berlipat-lipat hebatnya dari sekarang.


Betapa tidak, dari melihat, mendengar, mendiskusikan dan diulang berkali-kali oleh media yang dengan lugasnya menggambarkan, mengilustrasikan bahkan memaparkan secara terang dan jelas visualisasi dari kasus-kasus diatas, baik saksi mata yang tidak berpihak, gambar atau video yang ditayangkan, sangat vulgar, ditambah lagi media yang terkesan “meng-kompori”.

Lantas, pantaskah peristiwa atau kejadian luar biasa ini layak dikonsumsi oleh rakyat awam kebanyakan yang tidak tahu-menahu soal ketidaknormalan bangsa ini? Dan bukannya (lagi-lagi) pemerintah beserta jajarannya yang terkena imbasnya (walaupun tidak semua baik). Dampaknya, ya tidak lain dan tidak bukan adalah kewibawaan Kedaulatan Bangsa ini yang tercoreng, baik didalam maupun diluar negeri. Memang demokrasi, bebas mengumumkan dan mempublikasikan apapun sesuka hati. Tetapi bukankah kedaulatan bangsa ini lebih pinting?

Sangat bijak sekiranya kasus-kasus besar dan kasar diatas dikonsumsi dan ditelaah oleh orang (maaf) besar dan kasar pula. Orang awam seperti kami, cukuplah disuguhi tayangan dan tontonan positif tentang kesejahteraan hidup. Missal tentang pertanian, cara menanam dan memanen yang baik, cara menjual yang baik dan sebagainya. Atau penyuluhan penghijauan beserta dampak positifnya. Atau sosialisasi olah raga dengan membumikan bersepeda untuk mengurangi polusi. Atau kiat KB agar pertumbuhan masyarakat bangsa ini seimbang dan terkendali. Dan yang terpenting adalah pendidikan, semisal pendidikan Pancasila berikut pemaparan makna dan ulasan visi dan misinya, tidak lupa pendidikan enterpreneur. Tentunya dengan tayangan dan tontonan yang positif akan berimbas pada pola fikir yang positif pula bukan? Dan sebaliknya tentunya.

Saya dan anda tentu sefaham jika media adalah hiburan temporary dari kesibukan rutinitas hidup, melupakan tekanan-tekanan dan menghilangkan beban barang sejenak. Yang diharapkan adalah tayangan dan tontonan yang menghibur tentunya sebagai fitrah media. Baiklah, untuk sebagian kalangan tertentu merasa terhibur dengan tayangan dan tontonan diatas (walaupun saya tahu, terpaksa dihibur-hiburkan saja), tetapi lagi-lagi untuk kaum pinggiran seperti saya dan kebanyakan malah terkesan menambah beban hidup dengan meracuni otak dan fikiran negatif.

Memang ada sebagian media yang tidak terlalu banyak sibuk tentang tayangan dan tontonan “besar dan kasar” seperti rangkaian kasus diatas, tayangan dan tontonan alternatif menurut saya, gossip selebriti, boomingnya musik boyband dan girlband dan bius pesona sinetron yang aduhai luar biasa. Kalau boleh memilih, saya pilih kantong kresek, karena semuanya (maaf) “sampah”.

Lalu rakyat bangsa ini harus mencari hiburan dimana? Yang semurah media di Indonesia saat ini, tentunya yang mendidik dan berkualitas?

Apakah harus bertanya pada “Ayu Ting Ting?” atau bertapa saja seperti “Bang Toyib?”.

Santai bang, yang terahir hanya bercanda. Intermezzo mengendurkan urat syaraf yang tegang.
Tarik nafas dulu bang, biar lega ah… :D



Ditulis di Karawang, pada 26 Desember 2011. Pkl 12.16 Wib

Kamis, 14 Juli 2011

"Error"

Seperti kemarin dan sebelumnya, aku disini, masih disini.

Diantara buritan ilalang di hamparan ladang tak berujung, bak kenari tua dirudung masa, ditinggalkan kawanan, meratap sendiri.

Sampai disuatu siang yang terik, perlahan angin berhembus menghimpun serpihan awan yang menjadi gulungan mendung kelabu, aku disini, sendiri tak mampu berdidri melawan gemuruh dan hantaman hujan dan badai.

Ingin berlari sekuat tenaga, kemudian membentangkan sayap yang sudah tak bertenaga, terbang meninggalkan tumpukan jerami yang menghalangiku dari pandangan untuk mengejarmu, disisa nafas trahir kuterjatuh, tak mampu, nyatanya ku tak sanggup berdiri, aku terkapar, kalah.

Meratapi diri, berteriak, tak ada satu pun yang peduli.

————- hening —————

Kuterjaga diantara lalu lalang warga kota ini, ditengah kerumunan pasar pagi. Aku hanya duduk bersila menahan sakit tak terperi.

Tak sadar diri, tak kenal diri.

————- hening —————

Hembusan dingin angin malam ini membangunkanku dari tidur panjangku, aku terjaga diantara mimpi didalam mimpi. Masih tak sadar diri.

————- hening —————

Fikiranku, mataku, jari-jariku sudah tidak mampu lagi berkoalisi. Bagaimana bisa aku bermimpi, nyatanya sampai detik ini masih terjaga, rasa kantuk enggan berlabuh. Sampai-sampai tak mampu membedakan nyata dan mimpi.

————- hening —————

Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz........................

Kamis, 21 April 2011

Catatan "Kaki Lima"

Sedikit saja kita mebicarakan kaitannya antara Pemuda, Lapangan Kerja dan Pemerintah, ternyata terdapat garis linier yang sangat kontras jika dikaji dengan persoalan remeh-temeh ekonomi "Jaman Sekarang".

Tidak sedikit pemuda negeri ini (menurut saya, bahkan saya sendiri) yang masih terdoktrin dengan pola fikir [maaf] "Primitif", misalnya : "Kalau saya lulus besok, saya akan bekerja di perusahaan ini dan itu (sambil berapi-api menunjuk beberapa perusahaan bonafid lokal dan luar), apapun alasannya dan apapun caranya".

Dan sangat jarang sekali yang berfikir : "Bagaimanapun caranya, saya akan menciptakan lapangan kerja".

Seandainya saja setiap lulusan menciptakan perusahaan mandiri (taruhlah perusahaan tahu dan tempe). Misal setiap satu enterpreneur muda merekrut lima orang saja, saya yakin di negeri ini semakin berkurang pengangguran setiap tahunnya, tidak mustahil akan menepis pengangguran sama sekali, bahkan mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri. Sehingga tidak ada lagi pemuda-pemuda yang kehabisan tenaga, putus asa, depresi berduyun-duyun berdesakan membanjiri setiap pembukaan bursa lowongan kerja, sekalipun dengan upah yang jauh dari pada cukup, dengan dalih "yang penting kerja, yang penting tidak menganggur".

Masalahnya, pemerintah dan lembaga yang terkait sudah mampukah menampung aspirasi calon enterpreneur-enterpreneur muda saat ini? Saya yakin belum, bahkan tidak.

Kenapa? Kurangnya pelatihan, seminar dan doktrin kewirausahaan yang sangat langka di jaman yang semodern ini, dimana surat-menyurat dari mulai via burung merpati sudah diganti dengan e-mail dan internet. Tidak adanya pinjaman modal yang transparan untuk calon enterpreneur-enterpreneur muda beserta bimbingan sampai ke pemasarannya. Sudah cukup dijadikan pembuktian "cuek"nya pemerintah terhadap generasi mudanya.

Pemerintah beserta jajaran yang terkait sangat sulit sekali "menghibahkan dana" untuk regenerasi pemimpin negeri ini, calon-calon penerus bangsa yang berdikari, yang merdeka secara totalitas, bukan sekedar merdeka fisik, tetapi benar-benar sejatinya merdeka tanpa ada telunjuk bangsa lain di dalam negeri.

Dengan sibuknya pemerintah menarik investor-investor asing, mengumbar janji yang memanjakan investor tanpa mempedulikan generasi mudanya yang nantinya menjadi "buruh" investor asing. Memberikan fasilitas ini dan itu kepada investor. Sebaliknya, tidak pernah menuntut investor untuk memberikan tunjangan dan kebutuhan ini dan itu kepada generasi mudanya. Mulai dari sistem perjanjian kerja yang "tolol", kerja kontraklah, out sourchinglah, besok mungkin rodi.

Pernahkah mereka mencoba sekali saja, merasakan nasib pemuda-pemudanya saat ini, dan bagaimana nasib hari esoknya, nasib anak dan istrinya? Saya yakin mereka tidak pernah mau ambil pusing.


Karawang, 20 April 2011. Pkl 22.37

Kamis, 10 Maret 2011

Cincinmu belum ada yang memiliki Bu, maafkan..

Masih terduduk di bangku taman kota ini, terdiam, diantara hiruk pikuk warga Jakarta. Aku disini, sendiri, terasa sepi di keramaian kota ini. Meresapi harum tanah yang di jilat hujan, menikmati desiran angin Jakarta malam ini, dingin. Gemerlap temaram lampu taman kota dan desir hujan malam ini, tak mengusikku dari lamunan ini, renungan ini.


Teringat kata-kata bijak pamanku ketika bertamu di rumahnya dengan ibuku saat itu, sangat sederhana, tetapi sungguh dahsyat sarat dan maknanya, hingga menyadarkanku akan keegoisan ini.

“Kau tak lihat senyum manis ibumu, tawa renyahnya setiap menggendong anakku? Lihatlah.. Saya rasa beliau akan lebih bahagia jika yang digendong adalah anakmu, cucunya. Apakah kau tidak ingin memberikan kebahagiaan untuk ibumu yang sudah tua? Apakah kau yakin ibumu masih ada ketika kau sudah punya istri dan anak? Apakah kau berani menjamin?” terdiam, tak berkata apa-apa ketika paman menghampiriku di pekarangan rumahya.

“Percayalah, bukan hanya ibumu yang menanti kau beristri, lihatlah adik-adikmu, cobalah kau perhatikan perasaannya, mereka sudah besar, sudah dewasa, sudah siap berkeluarga. Memang tak pernah meminta, tapi mereka tidak ingin mendahuluimu.” Tak kusadari hati ini bembenarkan ucapannya, aku hanya diam, tersenyam, getir..
 
Semakin larut dengan kata-kata bijak pamanku, memang usianya lebih muda, 2 tahun lebih muda dari usiaku, tapi kedewasaannya jauh di bandingkan denganku, terlalu egois memikirkan karir dan kehidupan sendiri, tanpa mempedulikan perasaan ibu, dan adik-adikku. Anak macam apa aku ini? Kakak macam apa? Bukankah kejam?

Sebenarnya, setahun yang lalu sudah kurencanakan akan mempersunting seorang gadis, seseorang yang selalu dinanti kedatangannya, seseorang yang selalu berbagi senyum dan tawa ibu dan keluargaku, seseorang yang sudah sangat dekat dengan ibu dan keluargaku. Akan kuhadiahkan kejutan indah untuknya, akan kubuat hatinya berbunga-bunga. Aku akan mempersunting calon menantu impian ibu..

Janji yang sempat terukir dihati tak mampu kulunasi. Ibu tak perlu tahu, cukuplah aku yang merasakan pedihnya. Karena kebodohan ini, jari manisnya sudah diisi dengan cincin lain, bukan cincin darimu bu, maafkan aku.

Sesampainya dipelarian kota inipun tak dapat kulupakan tangis terakhirnya yang kutinggalkan bersama kenangan-kenanganku dulu bersamanya.

Dan sekarang, aku tak kuasa menahan perasaan, bukan hanya perasaanku, jauh dari itu, perasaan ibu dan adik-adikku. Yang kugadaikan dengan kebodohanku sendiri.

Calon istri yang sudah lama kunanti, calon menantu idamanmu yang kau sayangi. Takkan pernah lagi singgah dihatimu, takkan pernah lagi ada untuk berbagi tawa denganmu.

Jam dinding taman kota berdenting menandakan pukul 1 pagi, membangunkanku dari lamunan panjangku. Tak terasa 2 jam terduduk di bangku taman kota ini, sendiri.

Langkah kaki ini terlalu berat untuk kukayuh, tak tau lagi tempat untukku berlabuh. Tersesat tak tau arah, terjebak dalam kenangan-kenangan dan tuntutan. Teringat senyum manis ibu.. Aku menjerit diantara deras hujan dan keheningan malam kota Jakarta.

… Cincin yang kau titipkan darimu tak sempat aku sematkan dijari manis calon menantumu bu, maafkan aku…

Senin, 14 Februari 2011

HARU BIRU CINTA LALU #Cerpen Part 2

oleh Widianto Ahmad pada 14 Februari 2011 jam 11:33
Tak kupahami, sampai detik ini, setiap kali terlintas bayangmu, penyesalan ini terus bergejolak, kian hari kian membuncah. Sampai kucoretkan tulisan ini, tak terbendung rasanya.

Maaf jika sikapku selama ini membuatmu kecewa. Perhatian dan kasih sayangmu kadang kubalas dengan sikap dinginku. Sungguh, mengerti betul maksud dan tujuanmu saat itu. Air matamu tak sempat aku seka, surat-surat dan puisi-puisi indahmu tak sempat aku balas. Terlena dengan perasaan-perasaan yang sebenarnya absurd, tidak jelas, atau terlalu naif mungkin, terkesan egois memang.

Delapan tahun lamanya tak mendengar kabarmu, rasa-rasanya ada sesuatu yang sangat berharga hilang dalam diriku, seseorang yang tanpa kusadari masuk kedalam bagian hidupku, menjadi seseorang yang selalu mendengar cerita-cerita tololku, menjadi penyemangat hari-hariku.

Kini, benih-benih cinta yang dulu kau taburkan dihatiku yang dulu membeku, perlahan menjulurkan akar-akarnya menembus bongkahan-bongkahan kristal es yang perlahan meleleh.

Sangat berharap kelak suatu saat kembali dipertemukan denganmu, takkan kusia-siakan. Akan kucurahkan perasaanku, akan kuungkapkan semuanya kepadamu, betapa selama ini kau begitu berharga untukku. Kenangan-kenangan bersamamu, suka duka, mengharu biru terpatri begitu kuat di sanubari. Aku akan melamarmu!

Saat itu pula kucari informasi tentangmu. Dapat!!!, hati ini bergejolak, perasaan mulai tak menentu, panas dan dingin, rindu dan asa, bergulat menjadi satu, gemetar, takkan kubuang waktu percuma.

Aku dan kamu duduk di beranda rumahmu, lebih dari 15 menit tanpa sepatah katapun terucap. Perlahan, kudengar isak tangis yang sendu dari bibirmu, air mata yang perlahan menetes, aku hanya melirik sedikit, lagi-lagi tanpa sepatah kata.

“Kamu apa kabar?” ucapmu lembut, sambil menyeka air matamu.
“Baik.. Kamu?” tak kuasa kumenahan rindu ini, gemetar.
“Maaf sebulan yang lalu aku tidak sempat mengundangmu, aku tak tahu kabarmu apalagi alamatmu..” kini nadamu mulai terdengar tegar..
” …. ” tersentak seketika, seolah kilatan petir menyambar pohon cemara disiang yang terik, tertegun, ingin rasanya menangis sejadi-jadinya. Disatu sisi rasa rindu yang sudah lama kupendam telah terobati, disisi lain hati ini tak kuasa menerima kenyataan itu.
“Maaf…” menunduk, mungkin hanya aku orang terbodoh di dunia ini saat itu.
“Maaf? hanya maaf? selama ini kamu kemana saja? kenapa kamu tak datang setahun yang lalu, enam bulan yang lalu atau sebulan yang lalu, kenapa baru sekarang kamu datang? aku menunggu, lama sekali aku menunggumu, aku rindu…” tangismu semakin terdengar, menyayat.

Kenyataan tak selamanya indah, kenyataan  yang tak berpihak, kau telah berdua. Bunga-bunga cinta yang merekah, seketika itu pula layu kemudian berantakan, hancur rasanya hati dan perasaan ini.

Jerit tangismu menuntunku meninggalkanmu, tanpa sepetah kata meninggalkan kekasih hati selama delapan tahun kunanti. Sepanjang jalan tak henti-hentinya memaki diri, membodohi diri.. ingin rasanya kuteriakkan segala kesahku.. segala kebodohanku..

Semua yang terlihat berwarna kelabu, daun-daun dan rumput-rumput hijau terlihat kelabu, cat jingga tembok  stasiun tua terlihat kelabu, senja sore pun terlihat kelabu, semuanya kelabu.

Aku berlari sekuat tenaga menembus hujan badai ditepi sungai, terdiam, tertunduk, enteh apa yang ada dibenakku saat itu, kacau, tak terkendali. Air hujan menyapu air mata yang berderai, air mata yang tertahan rindu delapan tahun kusimpan, membuncah tak terbendung. Kuteriakkan kesahku, penyesalanku, sekuatnya, melawan kilatan petir, melawan gemuruh halilintar yang menertawakanku, menertawakan kebodohanku..

Cerita ini hanya fiktif, tidak ada unsur menyinggung pihak manapun baik subjek atau objeknya murni karangan belaka. Mohon maaf apabila ada yang dirugikan dengan catatan saya ini.. :-)
Sumber : widianto

Sabtu, 12 Februari 2011

Pertanyaan seputar Demokrasi

Teringat 3 tahun silam ketika saya baru masuk kuliah, mengikuti innagurasi fakultas. Saat itu digelar diskusi dan tanya jawab seputar keorganisasian antara mahasiswa baru, senior, alumni, dosen-dosen, kaprodi dan dekan. Berbagai argumen dan diskusi berat yang di lontarkan dari masing-masing kubu, saling adu pendapat dan solusi tentunya.
Tiba saatnya sesi mengajukan pandangan atas wacana-wacana yang di berikan kaprodi dan dekan, saya masih ingat saat itu bertemakan Demokrasi Organisasi.
Giliran saya mengajukan pertanyaan kepada dekan, berikut liputannya:
  • Saya : "Menurut pandangan bapak, sejauh mana manfaat media massa dalam pengaruhnya terhadap Demokrasi Pemerintahan saat ini?, saya ambil contoh acara yang belakangan marak bagi mahasiswa dan orang-orang yang berkecimpung di ranah politik, sebut saja BBM Benar-Benar Mabok (saat itu, dan sekarang kaulau tidak salah dirubah menjadi Republik Mimpi yang sudah beberapa kali berganti nama, Baru Bisa Mimpi dan sebagainya)"
  • Dekan : "Sah-sah saja, salah satu dari tujuan demokrasi adalah kebebasan berbicara, mengeluarkan pendapat baik lisan ataupun tulisan. Menurut saya bagus malah, dengan adanya acara-acara seperti itu menambah wawasan bagi semua kalangan".
  • Saya : "Betul untuk tujuan dari demokrasi itu sendiri, saya setuju. Tetapi bukankah saat ini yang terjadi adalah Orang yang tidak tahu menjadi tahu dan orang yang tahu semakin tahu. Permasalahannya, yang di bicarakan dan di bahas dalam acara tersebut sangat tidak fair. Kenapa? karena yang dibahas hanyalah sekelumit masalah-masalah pemerintah, kegagalan-kegagalan pemerintah, bukan kebaikan-kebaikan pemerintah, prestasi-prestasi pemerintah. Bolehlah sesekali mengkritisi pemerintah, tapi alangkah bijaknya sekiranya di bumbuhi solusi, minimal masukan atas tema yang dibahas saat itu. Kalau keadaannya seperti ini terus, dan terus berkelanjutan, saya rasa pemimpin sehebat apapun tidak akan berhasil memimpin bangsa ini. Presiden dari negara manapun yang berhasil memerintah dinegaranya, belum tentu berhasil di negara ini, apabila demokrasi yang diterapkan adalah demokrasi seperti ini.. Dan sekali lagi, saya tidak membenarkan pemerintah ataupun menghujat media massa tersebut, saya hanya merasa ada yang janggal terhadap keberlangsungan demokrasi saat ini, dari melihat dan merasakan kemudian marilah kita mencoba untuk bersama-sama merenungi arti dan makna dari demokrasi itu sendiri".
  • Dekan : "Memang benar, dan masalahnya yang terjadi adalah, demokrasi di negara ini adalah demokrasi yang berlebihan, demokrasi yang sudah kebablasan. Dimana semua orang berteriak, menghujat sana-sini, tanpa rasa takut membakar foto presiden dan pejabat-pejabatnya, bahkan yang terparah, melukis foto presiden (maaf) di pantat kerbau. Menurut saya ini sudah bukan lagi demokrasi yang sebenarnya, ini adalah penghinaan, jikalau mereka tahu, menghina pemimpin bangsa sama halnya dengan menghina bangsa itu sendiri. Apalagi sampai terdengar dan di tonton oleh negara-negara lain, jatuhlah wibawa bukan hanya presiden, tetapi bangsa ini".
Dari liputan diatas, yang perlu digaris bawahi adalah :
  1. Masih relevankah sistem demokrasi di negara ini?
  2. Perlukah adanya refresh diberbagai lini, perihal arti dan makna demokrasi yang sebenarnya?
  3. Ataukah penghapusan sistem demokrasi di negara ini?

Karawang, 12 Februari 2011.
Widianto

Surat untuk Presiden

Selamat malam menjelang pagi Bapak Presiden Pemimpin Bangsa,

Semoga surat ini tidak mengganggu tidur lelapmu, semoga selimut mewahmu selalu menghangatkanmu dari dinginnya malam, semoga alunan musik klasik kamarmu tidak mengganggumu dari jeritan dan pekikan rakyatmu yang kelaparan.

Terlalu lancang apabila rakyat jelata seperti saya datang tengah malam, mengetuk pintu mengganggu tidurmu dan hanya ingin berbincang, membicarakan kegelisahan ini. Dengan segala kerendahan hati, saya mencoba untuk mencurahkannya melalui selembar surat kotor ini.

Percayalah dibalik tidur lelapmu, ada sebagian dari rakyatmu yang tidak bisa tidur. Terlalu takut menghadapi hari esok, terlalu takut menghadapi segala kebijakan dan kekuasaanmu. Tidak berani menebak-nebak, maka, inilah sampai detik ini, mata ini enggan untuk menutup. Terlalu gelisah, terlalu takut.

Tahukah Bapak Presiden, kejutan-kejutan yang sudah kau berikan kemarin dan sebelumnya, sungguh menghancurkan segala harapan, menyayat hati, membungkam senyum-senyum kecil rakyatmu yang semestinya kau lindungi, melebarkan tangis duka anak-anak bangsa yang tak bergizi, melukai pertiwi.

Entah apalagi kejutan-kejutan yang akan Bapak berikan kepada kami esok hari, apakah racun yang kau berikan untuk anak-anak kami, bayi-bayi kami? apakah harga pangan yang akan terus kau naikkan? apakah

BBM yang akan kau tiadakan? apakah ketidak adilan hukum yang kau pamerkan? ataukah teror yang akan kau hidangkan untuk kami esok pagi? Atau..., entah apalagi kado istimewa yang akan kau suguhkan untuk kami, tentunya sangat mengejutkan bukan?

Betapa bijak sekiranya sedikit saja kau buka surat ini, mendengarkan kegelisahan yang saya alami saat ini.

Ahir kata, semoga segala yang Bapak berikan untuk kami adalah yang terbaik, terbaik untuk rakyat, terbaik untuk Bangsa ini. Mohon maaf atas segala kelancangan ini.


Karawang, 12 Februari 2011. 1.56AM
Salam Hormat,



Widianto
Rakyat kecilmu

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes