
Masih terduduk di bangku taman kota ini, terdiam, diantara hiruk pikuk warga Jakarta. Aku disini, sendiri, terasa sepi di keramaian kota ini. Meresapi harum tanah yang di jilat hujan, menikmati desiran angin Jakarta malam ini, dingin. Gemerlap temaram lampu taman kota dan desir hujan malam ini, tak mengusikku dari lamunan ini, renungan ini.
Teringat kata-kata bijak pamanku ketika bertamu di rumahnya dengan ibuku saat itu, sangat sederhana, tetapi sungguh dahsyat sarat dan maknanya, hingga menyadarkanku akan keegoisan ini.
“Kau tak lihat senyum manis ibumu, tawa renyahnya setiap menggendong anakku? Lihatlah.. Saya rasa beliau akan lebih bahagia jika yang digendong adalah anakmu, cucunya. Apakah kau tidak ingin memberikan kebahagiaan untuk ibumu...