oleh Widianto Ahmad pada 14 Februari 2011 jam 11:33Tak kupahami, sampai detik ini, setiap kali terlintas bayangmu, penyesalan ini terus bergejolak, kian hari kian membuncah. Sampai kucoretkan tulisan ini, tak terbendung rasanya.
Maaf jika sikapku selama ini membuatmu kecewa. Perhatian dan kasih sayangmu kadang kubalas dengan sikap dinginku. Sungguh, mengerti betul maksud dan tujuanmu saat itu. Air matamu tak sempat aku seka, surat-surat dan puisi-puisi indahmu tak sempat aku balas. Terlena dengan perasaan-perasaan yang sebenarnya absurd, tidak jelas, atau terlalu naif mungkin, terkesan egois memang.
Delapan tahun lamanya tak mendengar kabarmu, rasa-rasanya ada sesuatu yang sangat berharga hilang dalam diriku, seseorang yang tanpa kusadari...