Kamis, 10 Maret 2011

Cincinmu belum ada yang memiliki Bu, maafkan..

Masih terduduk di bangku taman kota ini, terdiam, diantara hiruk pikuk warga Jakarta. Aku disini, sendiri, terasa sepi di keramaian kota ini. Meresapi harum tanah yang di jilat hujan, menikmati desiran angin Jakarta malam ini, dingin. Gemerlap temaram lampu taman kota dan desir hujan malam ini, tak mengusikku dari lamunan ini, renungan ini.


Teringat kata-kata bijak pamanku ketika bertamu di rumahnya dengan ibuku saat itu, sangat sederhana, tetapi sungguh dahsyat sarat dan maknanya, hingga menyadarkanku akan keegoisan ini.

“Kau tak lihat senyum manis ibumu, tawa renyahnya setiap menggendong anakku? Lihatlah.. Saya rasa beliau akan lebih bahagia jika yang digendong adalah anakmu, cucunya. Apakah kau tidak ingin memberikan kebahagiaan untuk ibumu yang sudah tua? Apakah kau yakin ibumu masih ada ketika kau sudah punya istri dan anak? Apakah kau berani menjamin?” terdiam, tak berkata apa-apa ketika paman menghampiriku di pekarangan rumahya.

“Percayalah, bukan hanya ibumu yang menanti kau beristri, lihatlah adik-adikmu, cobalah kau perhatikan perasaannya, mereka sudah besar, sudah dewasa, sudah siap berkeluarga. Memang tak pernah meminta, tapi mereka tidak ingin mendahuluimu.” Tak kusadari hati ini bembenarkan ucapannya, aku hanya diam, tersenyam, getir..
 
Semakin larut dengan kata-kata bijak pamanku, memang usianya lebih muda, 2 tahun lebih muda dari usiaku, tapi kedewasaannya jauh di bandingkan denganku, terlalu egois memikirkan karir dan kehidupan sendiri, tanpa mempedulikan perasaan ibu, dan adik-adikku. Anak macam apa aku ini? Kakak macam apa? Bukankah kejam?

Sebenarnya, setahun yang lalu sudah kurencanakan akan mempersunting seorang gadis, seseorang yang selalu dinanti kedatangannya, seseorang yang selalu berbagi senyum dan tawa ibu dan keluargaku, seseorang yang sudah sangat dekat dengan ibu dan keluargaku. Akan kuhadiahkan kejutan indah untuknya, akan kubuat hatinya berbunga-bunga. Aku akan mempersunting calon menantu impian ibu..

Janji yang sempat terukir dihati tak mampu kulunasi. Ibu tak perlu tahu, cukuplah aku yang merasakan pedihnya. Karena kebodohan ini, jari manisnya sudah diisi dengan cincin lain, bukan cincin darimu bu, maafkan aku.

Sesampainya dipelarian kota inipun tak dapat kulupakan tangis terakhirnya yang kutinggalkan bersama kenangan-kenanganku dulu bersamanya.

Dan sekarang, aku tak kuasa menahan perasaan, bukan hanya perasaanku, jauh dari itu, perasaan ibu dan adik-adikku. Yang kugadaikan dengan kebodohanku sendiri.

Calon istri yang sudah lama kunanti, calon menantu idamanmu yang kau sayangi. Takkan pernah lagi singgah dihatimu, takkan pernah lagi ada untuk berbagi tawa denganmu.

Jam dinding taman kota berdenting menandakan pukul 1 pagi, membangunkanku dari lamunan panjangku. Tak terasa 2 jam terduduk di bangku taman kota ini, sendiri.

Langkah kaki ini terlalu berat untuk kukayuh, tak tau lagi tempat untukku berlabuh. Tersesat tak tau arah, terjebak dalam kenangan-kenangan dan tuntutan. Teringat senyum manis ibu.. Aku menjerit diantara deras hujan dan keheningan malam kota Jakarta.

… Cincin yang kau titipkan darimu tak sempat aku sematkan dijari manis calon menantumu bu, maafkan aku…

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes